Life

4 Fakta Menarik Perkebunan Kelapa Sawit, “Tersangka” Utama dari Kasus All Eyes on Papua

×

4 Fakta Menarik Perkebunan Kelapa Sawit, “Tersangka” Utama dari Kasus All Eyes on Papua

Sebarkan artikel ini


All Eyes on Papua belakangan trending di media sosial. Tagar ini trending di berbagai platform media sosial sebagai bentuk dukungan masyarakat Indonesia kepada penduduk Papua. Seperti diketahui, masyarakat adat Suku Awyo, Papua Selatan tengah berjuang menggugat Pemerintah Provinsi Papua dan beberapa perusahaan sawit.

Gugatan ini berawal dari Pemerintah Provinsi Papua yang memberikan izin lingkungan untuk mengelola lebih dari 30 hektar lahan pada perusahaan sawit. Diketahui lahan tersebut sebagian besar adalah hutan adat marga Woro. Rencananya, lahan ini nantinya akan dibangun Perkebunan sawit.

Rencana ini kemudian mendapatkan penolakan keras dari warga adat serta aktivis lingkungan. Pasalnya, pembangunan perkebunan sawit memiliki beberapa dampak negatif yang dapat mengganggu mata pencaharian masyarakat adat hingga risiko kerusakan lingkungan.

Sejak masalah ini jadi sorotan, Beauties pasti penasaran tentang fakta-fakta menarik dibalik perkebunan kelapa sawit yang ternyata memiliki dampak lingkungan yang cukup besar. Oleh sebab itu, simak disini untuk informasi selengkapnya!

1. Salah Satu Sumber Devisa Terbesar di Indonesia

Salah Satu Sumber Devisa Terbesar di Indonesia/ Foto: Freepik/8photo

Melansir dari website resmi Kementerian ESDM RI, disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki perkebunan sawit terbesar di dunia. Total lahannya mencapai lebih dari 14 juta hektar. Di antara belasan juta hektar tersebut, hanya 40% saja yang dikelola oleh petani kecil. Ini artinya 60% perkebunan sawit dikelola oleh perusahaan.

Dengan luasnya lahan sawit tersebut, mayoritas produksi sawit di Indonesia mampu menyumbangkan devisa sampai lebih dari 200 miliar dollar per tahunnya. Tidak heran jika perkebunan kelapa sawit jadi salah satu andalan untuk menambah pemasukan negara.

2. Berpotensi Meningkatkan Emisi Karbon dan Kerusakan Lingkungan

Berpotensi Meningkatkan Emisi Karbon dan Kerusakan Lingkungan/ Foto: Freepik/freepik

Seperti diketahui, perkebunan kelapa sawit umumnya berasal dari alih fungsi lahan. Kementerian ESDM menegaskan bahwa alih fungsi lahan ini hanya dilakukan pada lahan yang sudah terdegradasi. Dengan begitu, pemanfaatan lahan yang sudah terdegradasi menjadi perkebunan sawit mampu meningkatkan produktivitas lahan.

Namun di sisi lain, lahan pada hutan adat marga Woro adalah hutan kering primer. Disebutkan, proses alih fungsi lahan seluas lebih dari 26 hektar ini berpotensi mengalami emisi karbon. Dilansir dari Greenpeace, setidaknya potensi emisi karbon yang lepas jika deforestasi terjadi sebesar 23 juta ton CO2. Angka ini menyumbang 5 persen tingkat emisi karbon di 2030.

Penting diketahui emisi karbon sendiri adalah pelepasan gas rumah kaca yang berdampak buruk pada pemanasan global (global warming). Selain itu, dampak langsung yang bisa terjadi adalah makin buruknya kualitas air, polusi udara hingga terjadinya erosi tanah.


3. Kemungkinan Mengganggu Sumber Mata Pencaharian Masyarakat Adat

Kemungkinan Mengganggu Sumber Mata Pencaharian Masyarakat Adat/ Foto: Greenpeace

Fakta menarik lainnya dibalik dibalik pembangunan perkebunan kelapa sawit adalah kehadirannya yang mungkin akan mengganggu sumber mata pencaharian masyarakat setempat. Sebelumnya, masyarakat adat menggantungkan kehidupannya pada hasil hutan. Hutan sudah menjadi sumber pangan, obat-obatan selain sebagai sumber ekonomi.

Bagi mereka, hutan sudah menjadi salah satu identitas budaya sekaligus sumber pengetahuan. Oleh sebab itu, adanya alih fungsi lahan juga berpotensi menghilangkan sandaran utama masyarakat adat. Bahkan jika pada akhirnya masyarakat adat ikut dilibatkan dalam perkebunan kelapa sawit, mereka masih belum memiliki skill. Jadi, kecil kemungkinan perusahaan akan merekrut masyarakat lokal.

4. Menganggu Habitat Flora dan Fauna Endemik

Menganggu Habitat Flora dan Fauna Endemik/ Foto: Freepik/erik-karits-2093459

Proses pengalihan lahan atau deforestasi untuk pembangunan perkebunan sawit ternyata tidak hanya berdampak pada lingkungan dan masyarakat sekitar. Beberapa habitat flora dan fauna endemik juga berpotensi terganggu.

Bagaimana tidak? Lahan yang menjadi tempat hidupnya berubah sehingga sudah pasti mengganggu keberlangsungan hidup flora dan fauna. Padahal, flora dan fauna merupakan keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariannya.

Pada akhirnya, perkebunan sawit memang mampu menjadi sumber devisa yang besar untuk negara. Namun pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit juga memiliki beberapa dampak lingkungan yang wajib dipertimbangkan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Mirafestivalberlin? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Mirafestivalberlin, Mirafestivalberlin.com. Caranya DAFTAR DI SINI!


(dmh/dmh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *