Life

Tidak Ada Tempat yang Aman di Sini

×

Tidak Ada Tempat yang Aman di Sini

Sebarkan artikel ini


Kekejaman Israel pada warga Palestina masih terus berlanjut. Wilayah per wilayah terus dihabisi tanpa ampun. 

Terbaru, Israel melakukan penyerangan di tanah Rafah. Padahal, wilayah ini merupakan lokasi paling aman untuk warga Palestina mengungsi, sejak terjadinya serangan pada 7 Oktober 2023 lalu. 

Namun kini, tempat aman itu tidak ada lagi, karena tetap menjadi wilayah serangannya Israel. 


Cerita Saksi Mata Kekejaman Israel di Rafah
Israel serang Rafah/Foto: dok. Reuters

Israel serang Rafah/Foto: dok. Reuters

Para saksi mata menceritakan bagaimana serangan Israel di Rafah itu terekam oleh mata mereka.

Melansir Middle East Eye, aksi keji tersebut terjadi sekitar pukul 10 malam waktu setempat. Jet Israel menjatuhkan bom di tenda darurat yang menjadi tempat bernaungnya warga Palestina. 

Tenda darurat tersebut terletak di “zona kemanusiaan” yang ditetapkan Israel di dekat fasilitas penyimpanan PBB, menurut analisis Al Jazeera Arab.

Akibat serangan bom tersebut, 14 tenda habis terbakar. Menteri Kesehatan Palestina mengatakan 45 orang tewas dalam serangan itu. Lalu, sebanyak 249 orang lainnya terluka, beberapa di antaranya luka parah, termasuk luka bakar dan anggota tubuh patah. 

Mohammad Abo Sebah, seorang saksi mata kejadian mengatakan saat itu warga Palestina panik berlari mencari keselamatan. Api dimana-mana, tubuh hangus, tim medis yang menggendong korban dengan otak yang pecah, hingga yang memilukan adalah saat ada seorang pria menggendong anak tanpa kepala.

“Saya keluar dari tenda dan melihat api dimana-mana,” kata Mohammad Abo Sebah.

Abo menceritakan bahwa ia sempat menolong gadis muda yang berteriak panik saat kejadian. Namun, sekembalinya ia dari menolong gadis tersebut, tenda yang menjadi tempat perlindungannya sudah hancur total.

“Seorang gadis muda berteriak, jadi kami membantunya dan saudara laki-lakinya yang sudah dewasa. Ketika kami kembali, perkemahan itu hancur total,” ungkap Abo. 

Layan al-Fayoum, seorang gadis Palestina mengatakan akibat dari serangan tersebut, dibutuhkan 11 truk pemadam kebakaran dalam waktu dua jam untuk menghentikan api. Tak hanya itu saja, ia pun harus menemukan korban kejadian. 

“Kami harus menemukan anggota tubuh yang terpotong-potong dan anak-anak yang mati,” ujar Layan al-Fayoum, saksi mata. 


‘Tidak ada tempat yang aman di sini’
Children look on, as Palestinians travel on foot along with their belongings as they flee Rafah due to an Israeli military operation, in Rafah, in the southern Gaza Strip, May 28, 2024. REUTERS/Hatem Khaled

Warga Palestina di Rafah/Foto: REUTERS/Hatem Khaled

Setelah tanah Rafah yang turut menjadi sasaran serangan kejamnya Israel, saksi mata mengatakan jika tidak ada tempat yang aman, bahkan untuk mereka yang telah meninggal dunia. 

“Mereka bilang ini adalah zona aman,” kata Abo Sebah. 

“Pendudukan ini keji dan kriminal,” lanjutnya. 

Militer Israel mengatakan mereka menggunakan ‘amunisi tepat’ dalam serangan itu, yang diduga membunuh dua petinggi Hamas. Ia menambahkan, bahwa insiden tersebut “sedang ditinjau” dan menyesalkan segala kerugian yang menimpa non-kombatan selama perang. 

Sebagai korban kekejaman Israel, Abo Sebah menegaskan ia tidak memercayai apa yang dikatakan oleh Israel. 

“Apa lagi yang Anda harapkan dari mereka?” katanya kepada MEE. 

“Kami belum pernah melihat adanya pejuang perlawanan di sini. Para pejuang berada di zona tempur di Rafah timur,” lanjutnya. 

“Israel hanya mengatakan hal ini untuk membenarkan tindakan mereka. Mereka ingin membunuh rakyat Palestina, mengusir mereka secara paksa, dan menghancurkan rumah mereka.”

Abo Sebah telah menjadi saksi kekejaman Israel pada warga Palestina. November 2023 lalu, ia kehilangan rumahnya yang dibom oleh pesawat tempur Israel. Kejadian tersebut juga menewaskan dua putranya, putrinya, dan bayinya yang berusia dua tahun. 

Sejak Januari, ia datang ke Rafah untuk mencari keselamatan setelah Israel meminta warga Palestina datang ke kota selatan dan menghindari daerah berbahaya. Namun kini, tempat yang ‘aman’ tersebut juga menjadi sasaran Israel. 

“Tidak ada tempat yang aman di sini. Tidak ada yang selamat. Bahkan orang mati yang terkubur di bawah tanah pun tidak selamat,” kata Abo Sebah. 

“Penghancuran, mayat, dan pembunuhan. Inilah hidup kita.”

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Mirafestivalberlin? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Mirafestivalberlin, Mirafestivalberlin.com. Caranya DAFTAR DI SINI!


(ria/ria)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *